Wiraniaga feat Potong Rambut

Saya suka kisah seorang wiraniaga yang sedang potong rambut dan menyebutkan ia akan mengadakan perjalanan ke Roma, Italia.

“Roma kota yang terlalu mahal”, komentar si tukang cukur, yang lahir di Italia sebelah utara. “Perusahaan penerbangan apa yang anda gunakan?”

Wiraniaga tersebut menyebutkan nama perusahaan penerbangannya dan tukang cukur menjawab, “Perusahaan yang buruk sekali! Tempat duduknya sempit, makanannya tidak enak, dan pesawatnya selalu terlambat. Di hotel mana Anda tinggal?”

Wiraniaga itu pun menyebutkan nama hotelnya, dan kembali si tukang cukur berseru, “Mengapa anda tinggal di sana? Hotel itu bagian kota yang salah dan pelayanannya buruk sekali. Anda lebih baik tinggal saja di rumah!”

“..tetapi saya akan menandatangani transaksi besar di sana,” wiraniaga tersebut menjawab. “Dan sesudahnya saya berharap bertemu Paus.”

“Anda pasti akan kecewa mencoba berbisnis di Italia,” ujar si tukang cukur. “Dan jangan berharap bertemu Paus. Ia hanya mau bertemu dengan orang yang sangat penting.”

Tiga minggu kemudian, wiraniaga tadi kembali ke tukang cukur. “Bagaimana perjalanan Anda?” tanya si tukang cukur.

“Hebat sekali!” jawab si wiraniaga. “Penerbangannya sempurna, pelayanan di hotel bagus sekali, dan saya menghasilkan penjualan besar. Dan”—wiraniaga itu diam sejenak dan supaya lebih mengesankan—“Saya bertemu dengan Paus!”

“Anda bertemu Paus?” Akhirnya, tukang cukur tersebut terkesan. “Ceritakan apa yang terjadi!”

“Nah, waktu saya mendekatinya, saya membungkuk dan mencium cincinnya.”

“Serius! Lalu apa katanya?”

“Ia menunduk memandang kepala saya dan berkata, ‘Nak, dari mana kamu mendapat potongan rambut yang jelek ini?”


Tidak semua orang menangani kritik dengan cara yang sama. Sebagian berusaha mengabaikannya. Sebagian berusaha membela diri terhadapnya. Yang lain, seperti wiraniaga tadi, menggunakan komentar jenaka untuk menempatkan si pengkritik  di tempatnya. Namun, apa pun itu, jika anda seorang pemimpin, anda akan selalu menghadapi kritik.

Karena semua pemimpin harus menghadapi sikap negatif dan kritik, lepas dari posisi atau profesi, penting bagi mereka untuk belajar menghadapinya secara konstruktif. Filsuf Yunani Aristotle berkata, “Kritik adalah sesuatu yang dapat anda hindari dengan mudah, dengan tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa.” Namun, itu bukanlah pilihan bagi siapapun yang mau sukses sebagai pemimpin.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>